Tuesday, April 21, 2015

Komparasi Tabungan Remaja dan Anak muda dari 5 bank

Beberapa produk tabungan dibawah  bisa dijadikan pertimbangan teman-teman remaja dan anak muda yang ingin bikin tabungan plus ATM.

Gak mesti juga harus bikin di produk dan bank tersebut, karena ada produk tabungan  dari bank lainpun ada yang cocok  untuk  remaja dan anak muda.


Anak muda usia 17 yang sudah punya KTP misalnya, dia bisa bikin tabungan yang bersifat umum di bank mandiri, BRI atau

Monday, April 13, 2015

Menyusuri Sungai Sekonyer dengan Klotok

Klotok Borneo Lestari
Kami sudah pernah mencoba berbagai macam penginapan, mulai dari menginap di tenda, kabin, apartemen, motel, hostel, suite hotel bintang lima, campervan sampai terombang-ambing di kabin kapal feri menyeberangi Tasmania. Menginap dua malam di perahu klotok (atau kelotok) adalah pengalaman baru yang kami nanti-nantikan. Ternyata asyik kok, goyangnya nggak seberapa dan gak bikin mabuk. Malah berasa naik kapal pesiar :D

Menginap di klotok adalah standar akomodasi ketika kita mengunjungi Tanjung Puting National Park. Di sini memang ada satu hotel dan beberapa homestay, tapi pengalaman yang lebih otentik adalah dengan Live On Board (LOB) di river house boat alias klotok ini.

Klotok adalah perahu tradisional Kalimantan yang dibuat dari kayu Ulin. Ukurannya bervariasi. Diberi nama klotok karena tadinya perahu ini menggunakan mesin bersuara keras, terdengar seperti "klotok klotok klotok". Mesin kapal yang sekarang sudah lebih halus, tapi nama klotok masih menempel. Klotok kami ukuran kecil, sekitar 3 x 12 m, muat untuk berdua sampai berempat. Berenam mungkin cukup, tapi ruang geraknya terbatas. Klotok ini terdiri atas dua lantai. Lantai di bawah adalah untuk servis: tempat tidur kru, ruang kemudi, dapur dan kamar mandi. Sementara lantai atas untuk turis, terdiri dari lounge yang bisa disulap jadi tempat tidur di malam hari, ruang makan plus wastafel dan viewing deck di depan dan belakang.

Dari bandara Iskandar di Pangkalan Bun, kami naik taksi sekitar 30 menit sampai pelabuhan Kumai. Di sana, klotok kami sudah menunggu. Untuk sampai ke klotok, kami menyeberangi (melompati) klotok-klotok lain. Big A senang bagian lompat-lompat ini, sok pede tanpa dipegangi. Seru!

Begitu sampai di klotok, kami berkenalan dengan kru yang akan mendampingi kami selama 3 hari 2 malam. Ada Pak Syahrizal sebagai kapten kapal, Pak Pi'i sebagai pemandu (tour guide), Bu Atik sebagai koki dan Heri sebagai asisten. Terasa mewah banget bagi kami punya 4 asisten sekaligus, soalnya di rumah kami nggak ada ART, apalagi sopir.


Pelabuhan Kumai

Kondisi klotok kami cukup bersih dan nyaman, meski perabotnya sederhana. Selama menyusuri sungai Sekonyer, kami leyeh-leyeh di kasur tipis yang digelar di lounge. Angin yang membelai lembut membuat kami jadi ngantuk dan sukses tidur siang bergantian, dengan pose masing-masing :))

Menjelang malam, Kapten kapal akan mencarikan tempat yang nyaman untuk menambatkan kapal di pinggir sungai. Kami parkir di sebelah pohon yang penuh dengan kunang-kunang. Setelah makan malam, kru akan menyiapkan tempat tidur kami. Lounge disulap menjadi dua 'kamar tidur' lengkap dengan kelambu. Kami bisa tidur dengan nyenyak karena suasana malam sangat tenang. Sayangnya saya lupa membawa selimut (sarung Bali serbaguna yang biasanya saya bawa). Alhasil kami berebut sarung Si Ayah untuk selimutan. Mungkin bagi bule-bule, udara malam di Pangkalan Bun tidak dingin sama sekali, beda dengan yang kami rasakan. Selimut tipis sudah cukup kok. Nyamuk nakal tidak sampai mengganggu kami karena ada kelambu dan kami juga mengoleskan roll on anti nyamuk.


Malamnya tidur ditemani kerlip kunang-kunang, paginya kami dibangunkan oleh ocehan burung-burung.


Kamar mandi klotok cukup bersih dan tidak bau. Ada toilet duduk, tapi tanpa flush, jadi kami harus mengguyur toilet dengan menggunakan gayung. Air yang dipakai untuk mandi adalah air tanah (sungai kecil) di daratan, yang diambil di Pondok Tanggui dan air merah (air akar) di Camp Leakey. Sementara air untuk toilet adalah air sungai Sekonyer. Airnya cukup segar untuk mandi. Saya juga berhasil memaksa precils untuk mandi, setelah badan lengket oleh keringat gara-gara trekking. 

Dari dek kapal, depan dan belakang, kami bisa duduk santai menikmati pemandangan. Awalnya adalah vegetasi pohon nipah, kemudian berganti dengan daun-daun pandan hutan dan akhirnya vegetasi pohon hutan hujan tropis, dengan air sungai sebening air teh. Little A sempat menggambar dan membuat cerita tentang perjalanan kami. Ketika memasuki kawasan taman nasional, kami berkali-kali melihat hewan liar di alam, seperti monyet, bekantan, lutung dan orang utan. Kupu-kupu cantik tak terhitung banyaknya berseliweran di perahu kami.



Bagian yang paling mengasyikkan (setidaknya buat The Emak) dari jalan-jalan kali ini adalah: makanannya. Asyik karena nggak perlu masak, apalagi cuci piring, hehehe. Semua telah terhidang tepat saat jam makan. Makanannya enak karena bahannya segar dari alam dan dimasak di tempat. Menunya adalah olahan ikan dengan nasi, sayuran dan buah-buahan. Untuk sarapan pagi hari pertama kami dibuatkan pancake pisang (endeeees!) dan juga disediakan roti dengan berbagai macam olesan. Sarapan berikutnya kami dibikinkan nasi goreng. Baru kali ini juga saya ketemu yang namanya buah cempedak, yang memang banyak ditemukan di sana. Rasanya enak banget, perpaduan antara manisnya nangka dan creamy-nya durian. Baunya harum, tapi tidak semenusuk bau durian.
Untuk makanan ini, saya tidak minta macam-macam. Saya hanya bilang agar makanannya dibuat tidak pedas untuk anak-anak, tapi tetap disediakan sambal untuk Si Ayah. 

Selain makan berat, kami juga selalu diberi camilan dan soft drink atau jus dingin setiap kali selesai trekking. Duh, dimanja sekali pokoknya. Di kulkas rumah kami tidak pernah ada minuman bersoda, jadi Precils nyengir-nyengir bahagia boleh minum coke dan sprite selama liburan.




Ketika saya memesan paket liburan ini ke Kak Indra @bpborneo, saya belum tahu akan dapat klotok yang mana. Memang kami dikirimi contoh perahu kelotok dan menu makanan, tapi belum pasti dapat klotok yang mana. Dalam perjalanan ke Tanjung Puting NP, kami berbarengan dengan klotok-klotok lain beraneka rupa. Seperti biasa, klotok tetangga tampak lebih hijau, hahaha. Ada satu klotok tetangga yang mewah banget interiornya, dengan kasur spring bed dan mandi air panas. Bulenya yang naik cakep pula :p Tapi setelah kami pulang dan saya cek tarifnya, memang bukan kelas kami, hehe.

Saya merasa beruntung mendapat kru yang baik di klotok ini. Pak Pi'i, pemandu kami tadinya adalah koki, tapi kemudian berusaha belajar dan mengikuti kursus agar bisa menjadi pemandu. Dia belajar tentang taman nasional, margasatwa, konservasi orang utan dan juga bahasa Inggris dari pelatihan yang diadakan departemen pariwisata. Pak Pi'i ini senang dengan anak-anak dan bisa akrab dengan Little A. Ketika Little A capek trekking, Pak Pi'i mau menggendongnya di pundak. Untung badannya besar. Pak Pi'i juga yang selalu membawakan botol-botol air minum kami. Manja banget ya, dasar turis Indonesia :)) Di hari terakhir sebelum tugasnya selesai, dia sempat memberikan pelajaran sulap untuk Little A. Bonus!

Untuk liburan ke Taman Nasional Tanjung Puting ini saya memesan paket 3 hari 2 malam, yang termasuk antar jemput bandara, sewa klotok, bahan bakar, gaji kru, makan dan minum, dan tiket masuk ke taman nasional. Tarif 3D/2N untuk dewasa adalah Rp 1.750.000 per orang, sementara untuk anak-anak Rp 1.500.000 per orang. Total Rp 6,5 juta all in. Tinggal nambah tiket pesawat dari kota masing-masing ke Pangkalan Bun.

Yang nggak sanggup bermalam di perahu, bisa menginap di Rimba Ecolodge atau homestay yang ada di sana. Tapi dijamin, pengalamannya lebih seru kalau menginap di perahu, goyang-goyang kecilnya masih terasa sampai dua hari kemudian :)

Klotok tetangga, pakai spring bed
Penginapan Rimba Eco Lodge
Pak Pi'i, pemandu kami
Pak Syahrizal (kapten) dan Bu Atik (koki)
~ The Emak

Baca juga: 
Orang Utan Trip With Kids: Itinerary & Budget

Sunday, April 5, 2015

Orang Utan Trip With Kids: Itinerary & Budget

Tom, penguasa Camp Leakey
Saya sudah bercita-cita mengunjungi Tanjung Puting National Park sejak lama, ketika pesawat ke Pangkalan Bun masih pakai baling-baling dan hanya ada dari bandara Semarang. Niatan saya menguat ketika mengunjungi Singapore Zoo dua tahun lalu. Di sana, orang utan kita dijadikan maskot dan diperlakukan istimewa. Sementara di sini kadang saya menemukan orang-orang yang menjadikan orang utan sebagai bahan olok-olok dengan teman. Waktu itu saya berjanji ke Little A untuk membawanya mengunjungi orang utan di habitat aslinya. "Their real home is in Indonesia?" tanya Little A. Yes!

Alhamdulillah trip mengunjungi orang utan ini bisa terwujud tahun ini ketika ada liburan paskah. Kami memesan tur 3 hari 2 malam. Di tulisan ini saya akan sharing rangkuman itinerary dan budgetnya dulu. Tentang klotok dan taman nasional Tanjung Puting akan saya tulis tersendiri. 

Bisa nggak sih mengunjungi orang utan di habitat aslinya bersama anak-anak? Bisa banget.

Day 1
Pesawat kami berangkat jam enam pagi dari Surabaya. Cuma diperlukan waktu 55 menit untuk terbang menuju bandara Iskandar di Pangkalan Bun. Selain dari Surabaya, Pangkalan Bun (PKN) bisa dicapai dari Jakarta (1 jam 15 menit), Solo dan Semarang. Maskapai yang melayani rute ini adalah Trigana Air dan Kalstar.

Keluar dari bandara, kami disambut guide yang mengantar kami ke pelabuhan Kumai, tempat klotok parkir. Perjalanan dari bandara Iskandar ke Kumai sekitar 30 menit. Setelah beres-beres sebentar dan berkenalan dengan kru klotok (river boat), kapal berangkat dari Kumai jam 9 pagi. Klotok berjalan pelan menyusuri sungai Sekonyer yang menjadi batas luar dari Taman Nasional Tanjung Puting. Di kiri kanan sungai kami melihat pohon-pohon Nipah yang daunnya digunakan sebagai atap rumah oleh penduduk lokal. Daun muda Nipah juga menjadi makanan orang utan.

Setelah tiga jam, klotok ditambatkan untuk istirahat dan makan siang. Jangan khawatir, makan siang sudah disiapkan oleh tukang masak yang ikut sebagai kru klotok. Kami tinggal makan saja. Manja banget ya orang Indonesia? Hehe.

Jam dua siang, kami melanjutkan perjalanan ke Tanjung Harapan. Dari tempat kami parkir klotok, cuma perlu waktu setengah jam. Dari dermaga, kami perlu berjalan kurang lebih setengah jam (1 km) ke tempat pemberian makan orang utan (feeding platform). Jalan setapaknya mulai dari tanah berpasir sampai tanah gambut yang becek dengan akar pohon yang menonjol. Ya namanya juga hutan :p Little A (6 tahun) kuat jalan sendiri. Untuk anak balita mungkin perlu digendong atau jalan pelan-pelan. Jadwal pemberian makan di Tanjung Harapan adalah jam tiga sore.

Sekitar jam tiga sore, petugas meletakkan dua karung buah-buahan dan satu baskom besar susu di feeding platform. Kami para turis (lebih banyak bulenya daripada orang Indonesia) menunggu kedatangan orang utan dengan harap-harap cemas, semua siap dengan gadget di tangan :D

Kami termasuk beruntung karena bisa bertemu dengan Gundul, orang utan penguasa Tanjung Harapan. Saat musim buah begini, tidak banyak orang utan yang datang ke tempat pemberian makan karena mereka sudah cukup kenyang dengan buah-buahan di alam liar. Selain Gundul, ada beberapa orang utan dan bayi mereka yang ikut nimbrung minum susu, tentu dengan seizin si penguasa.


Sejam kemudian kami kembali naik ke kelotok dan mulai berburu Bekantan. Kalian ingat maskot Dufan? Nah, seperti itulah bekantan (Proboscis Monkey), monyet yang hidungnya panjang, yang merupakan endemik di Tanjung Puting. Kami menemukan banyak bekantan yang nongkrong di pucuk pohon, menunggu matahari terbenam. 

Makan malam alias candle lit dinner disajikan pukul tujuh. Guide kami mencarikan tempat berlabuh yang banyak kunang-kunangnya. Klotok bagian atas disulap menjadi tempat tidur, lengkap dengan kelambu untuk menangkal nyamuk dan serangga. Sayang sekali di langit tidak terlihat bintang karena mendung. Kami tidur ditemani suara-suara binatang malam.


Jalur trekking menuju Tanjung Harapan
Gundul, penguasa Tanjung Harapan
Day 2
Kami bangun disambut oleh suara-suara burung yang bersahutan. Sarapan disajikan jam 6.30. Menunya roti panggang dengan macam-macam olesan dan banana pancake. Yummy. Sambil sarapan, klotok tetap berjalan karena kami tidak ingin terlambat ke Pondok Tanggui. Jadwal pemberian makan di Pondok Tanggui adalah jam sembilan pagi.

Sekitar dua jam kemudian kami sampai di dermaga Pondok Tanggui. Trek menuju feeding platform juga sekitar 1 km, dapat ditempuh dengan jalan santai kurang lebih setengah jam. Belum sampai ke tempat pemberian makan, kami sudah melihat orang utan yang leyeh-leyeh di pohon bersama bayinya: Ricak dan Robby. Anak orang utan diberi nama sesuai huruf awal ibunya. 

Ternyata tidak ada orang utan yang datang di feeding platform Pondok Tanggui. Kami dan turis lainnya menunggu sampai satu jam, tidak ada seorang pun, eh, seekor pun yang datang. Yah gimana lagi, mungkin mereka sudah tercukupi kebutuhannya di dalam hutan. Akhirnya kami trekking untuk melihat vegetasi yang ada di sekitar hutan Pondok Tanggui. 

Dari Pondok Tanggui kami melanjutkan ke Camp Leakey, sekitar dua jam perjalanan. Kami makan siang di jalan, masih dengan menu ikan segar yang baru saja dimasak. Jadwal pemberian makan di Camp Leakey adalah jam dua siang. 

Trekking dari dermaga Camp Leakey menuju feeding platform cukup jauh, dua kali lipat dari camp sebelumnya. Kami butuh waktu 45 menit berjalan dengan kecepatan sedang. 

Hari ini kami beruntung bisa bertemu dengan Tom, alpha male di Camp Leakey. Penguasa hutan ini umurnya 35 tahun dan punya kekuatan delapan orang dewasa. Jadi memang aturannya kita tidak boleh dekat-dekat dengan orang utan, apalagi mengajak selfie. Ingat, ini habitat asli mereka, bukan kebun binatang. Setelah bertemu Tom, kami sempatkan singgah di information centre untuk melihat foto-foto dan display pengetahuan tentang orang utan. Tahu nggak kalau DNA orang utan 97% sama dengan DNA manusia? :)

Di sebelah information centre adalah rumah Dr Birute Galdikas yang pertama kali meneliti orang utan di Tanjung Puting sejak tahun 1971.


Jam empat sore kami pergi dari Camp Leakey. Pak Pi'i, guide kami menawarkan trekking malam untuk melihat binatang-binatang nocturnal di Pondok Ambung, tapi kami sudah terlalu capek dan anak-anak juga tidak mau. Hahaha, turis malas :p 

Sebagai gantinya, kami bisa melihat gerhana bulan dari deck klotok dan makan malam bersama ribuan bintang yang terlihat benderang di langit. Karena kecanggihan kamera kami tidak bisa mengabadikan keindahan bulan dan bintang-bintang di malam hari, semuanya kami rekam baik-baik dalam ingatan. Sambil nyanyi lagunya Ed Sheeran '... kiss me under the light of a thousand stars...'


Keluarga precils di Camp Leakey
Day 3
Hari ini kami sudah harus balik lagi ke kota, meninggalkan sungai dan hutan yang tenang dan damai. Sarapan dihidangkan jam tujuh. Kemudian jam sembilan kami berangkat menuju Sekonyer Village untuk berjalan-jalan dan melihat suasana desa di tepi sungai Sekonyer ini. Dulu, penduduk ini tinggal di dalam taman nasional, tapi kemudian dipindah ke sini dan beranak pinak.
 

Sambil berjalan kembali ke pelabuhan Kumai, kami makan siang awal, sekitar jam sebelas. Jam dua belas siang kami sudah sampai di Kumai. Setelah berpamitan dengan kru klotok, kami diantar ke bandara dan bisa langsung cek in menuju Surabaya.
 
Sebenarnya ada itinerary untuk 2 hari 1 malam yang bisa dilakukan di akhir pekan. Tapi itinerary 2D/1N ini cukup padat dan melelahkan. Di hari pertama (pagi hari) kita diantar langsung menuju Camp Leakey, camp yang paling jauh dari pelabuhan Kumai. Perjalanan bisa sampai enam jam. Baru di hari kedua, klotok berbalik arah dan singgah di Pondok Tanggui dan Tanjung Harapan, sekalian kembali ke pelabuhan Kumai.

Klotok alias River Boat yang kami sewa
BUDGET
Saya memesan tur ini ke Kak Indra dari @bpborneo. Tarif tur sudah all in termasuk transfer dari bandara ke pelabuhan Kumai, sewa klotok + bahan bakar, gaji kru (kapten, cook, asisten), guide, tiket masuk taman nasional, tiket kamera, biaya parkir klotok, makan 7 kali, camilan beserta teh kopi soft drink. Kami tinggal beli tiket pesawat (saya beli via Traveloka) dan bawa badan saja.

Tiket pesawat Trigana Air SUB - PKN pp       4x 1.150.000 = IDR 4.600.000
Tour all in Adult                                         2x 1.750.000 = IDR 3.500.000
Tour all in Children                                     2x 1.500.000 = IDR 3.000.000

TOTAL (4 orang ) = IDR 11.100.000

Pengeluaran lain (opsional) untuk membeli suvenir dan tip kru (kalau mau memberi).

Sebelum memutuskan ngetrip dengan Backpacker Borneo, saya sudah cek toko sebelah, dan memang Kak Indra yang tarifnya paling terjangkau buat kami. Satu kapal klotok bisa eksklusif untuk keluarga kami saja, empat orang. Tentu kalau ngetrip dengan lebih banyak orang, jatuhnya akan lebih murah per-orangnya. Klotoknya juga akan dapat yang lebih besar. Tapi rata-rata fasilitasnya sama, hanya furniture dan dekorasinya saja yang berbeda. Harga yang lebih mahal biasanya dapat kapal yang lebih baru dengan interior yang lebih bagus.

Sebelum memutuskan ngetrip dengan siapa, coba cek dulu beberapa operator tur yang aktif di sosial media ini:
1) Tukang Jalan
2) Kakaban Trip
3) Ibu Penyu

Kalau ingin naik klotok yang lebih fancy, bisa pesan klotok langganan emak-emak Ostrali ini. Tapi tarifnya dolar :D http://www.borneotour.org

Atau kalau nggak sanggup tidur di kapal dan nggak bisa hidup tanpa AC dan mandi air panas, bisa menginap di hotel satu-satunya di sana. Cek langsung di http://rimbaecolodge.com 

Saya sendiri memilih Kak Indra yang putera Borneo asli. Cek blognya di sini, dan website turnya di sini.

Tur mengunjungi orang utan di habitat aslinya ini sangat menyenangkan karena perjalanannya santai. Bagi anak-anak, ini pengalaman istimewa yang akan mereka kenang dan bisa mereka ceritakan ke teman-temannya. Bisa jalan-jalan di hutan, tidur di kapal, mandi dengan air sungai, melihat bintang, melihat orang utan, bekantan, monyet, lutung, gibon, ratusan kupu-kupu di rumahnya sendiri. Pengalaman seperti ini tidak bisa mereka dapatkan di kebun binatang dalam kota.

~ The Emak

Baca juga: 

Menyusuri Sungai Sekonyer dengan Klotok

Wednesday, March 25, 2015

Taman Rekreasi Sengkaling Malang

Taman rekreasi Sengkaling Malang yaitu suatu obyek wisata yang jadikan wahana air juga sebagai daya tarik intinya. Tak heran taman rekreasi Sengkaling Malang memiliki slogan “Wisata Air Yang dimimpikan Keluarga”. Taman rekreasi ini ada di tepi jalan raya Mulyoagung No. 188, kecamatan Dau, Malang. Tempat ini sangatlah strategis lantaran ada di segi jalan. Hingga untuk menuju tempat itu sangat gampang. Luas obyek wisata itu yaitu 9 hektar. 6 hektar dari obyek wisata itu ditanami peopohonan berupa taman sampai menyejukan tiap-tiap pengunjung. Obyek wisata ini di buka dari mulai jam 06 : 00 pagi hingga jam 17 : 00 WIB.

Fasilitas di Taman Rekreasi Sengkaling

Di samping tempat yang luar berupa taman, taman rekreasi Sengkaling Malang juga memiliki sebagian sarana yang mumpuni salah satunya 5 kolam renang air panas maupun dingin, 2 gedung serba manfaat, 13 type permainan seperti kiddy train, sepeda air, boom car, serta ada banyak lagi. Diluar itu, ada pula 2 restoran, tempat fitness, 2 lapangan tenis, taman satwa, serta tentu tempat parkir yang lebar serta teduh.

Untuk wahana dari wisata air taman rekreasi Sengkaling Malang sendiri, ada beragam jenis wahana yang menarik, terlebih kolam air serta telaga buatan. sebagian wahana itu yaitu bumper boat, kolam kapal, misteri kolam, pesona primitif, kolam pesona tirta alam, kolam pesona tirta sari, perahu motor, kolam cumi-cumi, sepeda air, go kart, flying fox, wahana ikan, serta ada banyak lagi.

Harga Tiket Masuk

Tentang harga ticket masuk, taman rekreasi Sengkaling Malang memiliki spesifikasi harga ticket yang berlainan bergantung type ticket serta umur pengunjung. Untuk harga ticket yang umum sebesar Rp 15. 000, - per orang. Ticket terusan yang phinisi sebesar Rp 30. 000, - untuk orang dewasa, serta ticket terusan yang kano sebesar Rp 25. 000, - untuk anak-anak.

Taman rekreasi Sengkaling Malang yang memiliki wisata air juga sebagai daya tarik intinya, kelihatannya sangatlah pas untuk berlibur berbarengan keluarga serta anak-anak. Mereka bakal dimanjakan dengan beragam type wahana permainan air yang asyik serta menarik. Sempatkan diri Anda serta keluarga untuk nikmati wisata air Sengkaling Malang ini. Ditanggung senang serta mengasyikkan.

Air Terjun Coban Rondo Malang

Air Terjun Coban Rondo Malang -  Air Terjun Coban Rondo Malang yaitu salah satu tempat wisata air terjun yang popular bukan sekedar di kelompok wisatawan lokal, namun juga di kelompok wisatawan mancanegara. Tempat air terjun itu berlokasi di Pandesari, suatu desa di kecamatan Punjong, Malang, Jawa Timur. Banyak beberapa wisatawan menggunakan saat berlibur mereka di wisata alam Air Terjun Coban Rondo ini. Terkecuali lantaran tempatnya yang sejuk, akses menuju obyek wisata ini dapat cukup gampang dijangkau oleh kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Tersebut sebagian sarana, wahana, serta daftar harga ticket masuk ke tempat itu.

Fasilitas di Air Terjun Coban Rondo

Beberapa wisatawan bisa memakai sebagian sarana menarik di ruang Air Terjun Coban Rondo Malang ini seperti warung-warung kecil, tempat beribadah, panggung terbuka, tempat buat camping, serta tentu toilet. Di warung-warung itu, wisatawan bisa nikmati sajian hangat bermacam makanan serta minuman yang khas dengan harga yang cukup murah. Diluar itu, untuk wisatawan muslim, ada pula musala untuk menggerakkan shalat. Sesaat panggung terbuka serta tempat camping ground bisaanya dipakai untuk acara-acara spesifik. Untuk wisatawan yang ingin bermalam, ada pula tempat penginapan sejauh 5-8 km dari air terjun itu.

Setelah itu yaitu wahana bermain. Air Terjun Coban Rondo Malang memiliki bermacam wahana permainan yang menarik seperti Fun Tubing (Rp 35. 000/orang), Paint Ball (Rp 450. 000/6 orang) jumlah peluru 150 atau (Rp 750. 000/6 orang) jumlah peluru 300. Diluar itu, ada pula wisata satwa. Pengunjung dapat lihat bermacam satwa. Sedang untuk wahana anak, pengunjung dapat pula nikmati permainan Kereta Kelinci dengan karcis Rp 5. 000, - serta ada banyak lagi.
Harga Tiket

Wisatawan Dosmetik Rp 8. 000
Wisatawan Mancanegara R 10. 000


Untuk harga ticket masuk Air Terjun Coban Rondo Malang ada seilisih harga pada wisatawan domestik dengan wisatawan mancanegara. Wisatawan domestik cukup Rp. 8. 000, - serta Rp. 10. 000, - untuk turis mancanegara. Sedang untuk beragam type kendaran, harga tiketnya juga tidak sama. Roda dua sebesar Rp. 2. 000 serta Rp. 4. 000 untuk roda empat. Sesaat untuk roda enam, tiketnya Rp. 6000.

Dengan beragam sarana serta wahana menarik, ditambah lagi dengan harga tikat yang terbilang murah, terasa Air Terjun Coban Rondo Malang ini sangatlah layak untuk jadikan lokasi untuk berlibur untuk keluarga Anda. Ajaklah saudara serta rekan-rekan Anda untuk bertandang di Air Terjun Coban Rondo ini. Bukan sekedar daya tarik dari air terjun itu saja, banyak wahana permainan yang dapat Anda nikmati.

Akses Jalan ke Coban Rondo

  • Dari arah Malang rute yang di lalui adalah Dau – Batu – Coban Rondo. Lama perjalanan seputar 1 Jam, dengan jarak tempuh ±30 km
  • Dari arah Surabaya menuju ke Malang – tiba di Songosari – Karangploso – Batu dari Batu segera ke menuju Coban Rondo. Lama perjalanan seputar ±3, 5 Jam, dengan jarak tempuh ±142km

Makam Sunan Giri Gresik

Wisata Makam Sunan Giri - Gresik adalah kota yang terdapat ada di pesisir pantai. Jaman dulu gresik yaitu tempat persinggahan untuk pedagang Arab. Serta mulai di sinilah semula ajaran Islam yang ada di Islam yang dibawa dari seseorang pedagang bernama siti Fatimah binti maimun. Gresik juga dikatakan sebagai kota santri dimana penduduknya sebagian besar beragama Islam serta di kota ini ada banyak pesantren yang di bangun. Diluar itu gresik juga di kenal dengan obyek wisata religi lantaran mempunyai 5 makam wali dari wali songo. Satu diantaranya yaitu komplek wisata makam sunan GIri, Gresik. Saat ini banyak masyarakat lokal ataupun dari luar gresik berkunjung ke makam sunan gresik terlebih ketika bln. Ramadhan sampai puncaknya saat malam selawe atau 25 ramadhan.
Makam Sunan Giri Gresik

Fasilitas di Makam Sunan Giri

Di Makam Sunan Giri, Gresik ini ada tempat parkir yang disiapkan untuk parkir kendaraan pribadi ataupun untuk bus beberapa peziarah serta beberapa wisatawan yang lain dengan dikelilingi kios-kios yang jual beragam macam souvenir. Tak ketinggalan juga ada sarana penunjang yang lain seperti Masjid Giri. Makam sunan giri ini terdapat diatas bukit hingga untuk menuju ke atas kita mesti mendaki ke atas, namun disana banyak disiapkan dokar maupun ojek untuk mengantarkan beberapa pengunjung ke obyek wisata makam sunan giri. Untuk tariff dokar Rp 10. 000 sedang untuk tariff ojek satu kali jalan yaitu Rp 2000. Sesudah naik ojek atau dokar, kita masih tetap mesti naik tangga serta di selama anak tangga itu kita bisa menjumpai sangat banyak pedagang makanan serta cinderamata.

Saat kita menaiki anak tangga itu, kita akan temukan gapura bentar yang terbuat dari batu bata berhiaskan gunungan yang ada di kaki gapura serta ada parung singa yang telah rusak atau aus. Selama anak tangga terdapat beberapa pohon-pohon seperti pohon asam yang menurut masyarakat setempat adalah pohon asam yang dulunya ditanam sendiri oleh Sunan Giri pada saat masih tetap hidup. Lokasi wisata makam sunan giri, Gresik terdapat didalam cungkup dengan dihiaskan ornament-ornamen bermotifkan sulur tanaman. Pintu masuk menuju makan di buat rendah supaya beberapa pengunjung merunduk agar tak terbentur. Hal semacam ini dikerjakan dengan berniat sebagi penghormatan untuk Sunan Giri. Komplek wisata makam sunan giri, Gresik terdapat tertinggi diantara makam yang lain.

Akses Jalan ke Makam Sunan Giri

Tempat makam sunan giri, gresik ini terdapat di Desa Griri, kec kebomas, kab gresik. Untuk hingga ke tempat tak terlampau susah lantaran letaknya ada diantara perbatasan kota gresik serta Surabaya. Bila ditempuh dari kota gresik bisa memakai kendaraan pribadi ataupun kendaraan umum dengan jarak tempuh sejauh 2 km menuju arah selatan dari kota gresik. Komplek makam ini tepatnya ada di puncak bukit giri.

Saturday, March 7, 2015

Mengganti Kartu ATM Magnetic ke ATM Chip

Bank Indonesia mengarahkan  perbankan nasional  agar mengganti kartu ATM / Debet  teknologi  Magnetic stripe menjadi teknologi berbasis Chip paling lambat 31 desember  2015.

Apakah bank tempat anda menabung telah melakukan migrasi itu?  Apakah kartu ATM yang  saat ini dipegang sudah menggunakan Chip?  Kita bahas disini.



**
Btw, saya agak khawatir menulis artikel ini. Khawatir  bikin pusing